Big Data Era

bdBig data merupakan sebuah data besar yang harus diolah agar memiliki nilai lebih. Peran big data bagi pemerintahan atau layanan publik sangatlah penting, sebab analisis big data akan mentransformasi data eksternal menjadi fakta. Kemudian, menerjemahkan fakta tersebut menjadi sebuah kebijakan yang akan sangat membantu performa pemerintahan. Dengan pengolahan big data, diharapkan pemeritahan mampu membuat beragam kebijakan yang lebih cepat, akurat dan murah. Hal ini dikarenakan big data memberikan informasi yang sudah diolah melalui pendekatan analisis, sehingga hasilnyapun sudah terstruktur.

Di Indonesia, big data dapat dimanfaatkan di berbagai isu-isu penting pembangunan nasional. Dalam konferensi Big Data Week Indonesia, yang mengundang banyak pembicara terkemuka di bidang Big Data untuk membahas mengenai pemanfaatan Big Data di Indonesia, dapat disimpulkan pemanfaatan big data di Indonesia yang sangat strategis adalah untuk: (1) peningkatan hasil pertanian; (2) mengurangi korupsi; (3) meningkatkan kualitas kesehatan; (4) perbaikan kualitas pendidikan; dan (5) peningkatan bidang energi.

Indonesia adalah negara agraris yang memiliki lebih dari 30 juta petani serta didukung dengan lahan pertanian yang sangat luas. Tentu saja pemanfaatan teknologi big data di Indonesia akan sangat menguntungkan. Contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh Regi Wahyu, CEO dari Mediatrac, perusahaan analisa Big Data terkemuka di Indonesia. Regi merekrut sejumlah mahasiswa berbakat dari Universitas Padjadjaran untuk melakukan riset di sebuah areal persawahan di Jawa Barat. Tahap pertama yang dilakukan adalah menganalisa kualitas tanah dan luas sawah dengan foto aerial. Tim riset mengambil 400 foto untuk tiap 1 hektar sawah. Tahap selanjutnya adalah mengamati pertumbuhan tinggi padi setiap minggu dan juga mengumpulkan data cuaca dari hari ke hari. Informasi-informasi yang telah dikumpulkan tersebut akhirnya menjadi big data yang bisa digunakan untuk membantu para petani meningkatkan produksi panen, memprediksi waktu yang tepat untuk bercocok tanam, dan lainnya. Hal tersebut tentu saja dapat meningkatkan taraf hidup petani Indonesia.

Menurut Corruption Perception Index (CPI) 2014, Indonesia menempati posisi 117 dari 175 negara di dunia dengan skor 34 dari skala 0-100 (0 berarti sangat korup dan 100 berarti sangat bersih). Teknologi big data sebenarnya bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pada demo sistem pajak online yang dilakukan Iwan Djuniardi saat menjadi pemateri konferensi Big Data Week Indonesia, memperlihatkan visualisasi yang sangat detail seperti silsilah keluarga, jenis dan barang kekayaan apa saja yang dimiliki, serta jenis pajak dan status apakah sudah membayar pajak atau belum. Dengan sistem online tersebut, diharapkan pemerintah bisa mengurangi penipuan pajak dan mengoptimasi pendapatan negara.

Pada sektor kesehatan, big data sangat bagus untuk diterapkan. Anis Fuad, peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM), menjelaskan bahwa pada saat ini setiap klinik, puskesmas, dan rumah sakit di Indonesia menggunakan perangkat lunak yang beragam untuk mencatat data pasien. Data yang dikirim Dinas Kesehatan pun masih sangat sederhana dan tidak semuanya lengkap. Sebenarnya, ada banyak informasi yang bisa dikumpulkan dari klinik, puskesmas dan rumah sakit, seperti: (1) data kesehatan pasien; (2) finansial; (3) admistrasi; bahkan (4) media sosial. Dengan penerapan teknologi big data, semua informasi kesehatan penduduk Indonesia akan menjadi terpusat. Sehingga data tersebut bisa diolah dan dianalisa untuk meningkatkan sektor kesehatan di Indonesia seperti melakukan prediksi penyakit dan mengetahui tingkat kesehatan penduduk di Indonesia.

Pendidikan adalah salah satu sektor yang menjadi perhatian khusus pemerintah dari masa ke masa. Di setiap pergantian kekuasaan sektor ini tak luput dari perubahan kebijakan. Sudah beberapa kali pendidikan di Indonesia mengalami perubahan kurikulum. Sudah saatnya pemerintah dan sekolah-sekolah mencoba menggandeng teknologi dalam permasalahannya ini. Salah satu teknologi yang sekiranya dapat membantu adalah analisis big data. Data-data hasil pengerjaan tugas dapat diambil dan dianalisis secara lebih personal. Dengan data tersebut selain hasil atau nilai akhir, pendidik atau orang tua bisa mengetahui apa saja yang telah dipelajari serta kendala-kendala dalam proses belajar siswa secara lebih rinci. Selain menghasilkan data yang lebih mendetil, penerapan teknologi big data juga dapat dibarengi dengan analisis prediktif untuk menentukan pembelajaran seperti apa yang cocok untuk setiap masing-masing siswa. Rekam jejak seperti soal apa yang dikerjakan, soal mana yang menjadi permasalahan serta pola jawaban dari siswa dapat dikumpulkan dan dirumuskan menjadi sebuah standar untuk memberikan sebuah metode pembelajaran yang lebih baik.

Konsumsi energi final di Indonesia pada periode 2000-2012 meningkat rata-rata sebesar 2,9% per tahun. Jenis energi yang paling dominan adalah penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang meliputi avtur, avgas, bensin, minyak tanah, minyak solar, minyak diesel, dan minyak bakar. Sektor transportasi merupakan sektor pengguna BBM yang paling besar. Big data bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu contohnya adalah aplikasi Weaver yang dikembangkan oleh Toyata. Aplikasi ini adalah untuk meningkatkan pengalaman berkendara. Aplikasi ini bisa melacak berapa banyak bahan bakar minyak yang dihabiskan, mengetahui rasio penggunaan bahan bakar, dan mengetahui berapa banyak kadar CO2 yang dikeluarkan setiap mobil.

Sumber Gambar

About admin2016

Check Also

Coaching Clinic 2022 Baper dan Pamer

Divisi Riset Publikasi dan Karya Ilmiah (RPKI) Puzzle Research Data Technology (Predatech) UIN Suska Riau …

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Solve : *
12 ⁄ 6 =